News & Publication

Press Release Diskusi Publik Perempuan, Pengungsi dan Kekerasan Berbasis Gender

Pada tanggal 05 Desember 2018, Sandya Institute bekerja sama dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)  mengadakan disksusi publik dengan topik “ Perempuan, Pengungsi dan Kekerasan Seksual ” acara ini diadakan dalam rangka kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HaktP) yang merupakan bagian dari kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia

Acara ini diadakan untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya pemahaman terhadap isu kekerasan berbasis gender di kalangan pengungsi internasional (refugee), pengungsi internal (internally displaced persons) dan orang-orang tanpa kewarganegaraan (stateless persons). Hal ini dikarenakan permasalahan kekerasan berbasis gender yang mereka alami masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, dengan status mereka tersebut, mereka menjadi sangat rentan terhadap praktik kekerasan berbasis gender, hal ini harus ditangani oleh para pemangku kepentingan secara lebih komprehensif.

Diskusi publik ini dimulai dengan pemaparan dari Dr. Adriana Venny Aryani, Komisioner Komnas Perempuan yang menjelaskan mengenai sejarah Komnas Perempuan, HaktP, konsep kekerasan berbasis gender dan instrumen hukumnya, serta temuan Komnas Perempuan mengenai kekerasan berbasis gender yang dialami pengungsi dan kelompok rentan. Pemaparan materi dilanjutkan oleh Ratih Widiarti, Perwakilan dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Indonesia yang menjelaskan mengenai mandat dari UNHCR dalam menangani permasalahan kepengungsian dan upaya UNHCR dalam menangani permasalahan kekerasan berbasis gender yang dialami oleh pengungsi internasional di Indonesia. Diovio Alfath, perwakilan dari Sandya Institute memaparkan materi terkait dengan peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam membantu mengurangi beban pengungsi dan perlindungannya dari kekerasan berbasis gender. Pembicara terakhir dari panelis diskusi publik ini adalah Waheeda yang merupakan pengungsi Afganistan dari Sunrise Refugee Learning Center,  beliau menjelaskan mengenai perspektifnya sebagai pengungsi terhadap permasalahan kekerasan berbasis gender yang dialami oleh pengungsi.

Public Relations Team

Sandya Institute

pr@sandya-institute.org

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News
Tempo.Co Press Release: Pengungsi dan Dampak Ekonominya di Indonesia, Diskusi Sandya Institute di Ruang dan Tempo.

INFO EVENT – Sandya Institute (Sandya), sebuah LSM yang bergerak di bidang hukum dan HAM,  telah mengadakan sebuah diskusi dengan Jesuit Refugee Services (JRS) di Ruang dan Tempo, Jalan Palmerah Barat 8 Jakarta  pada hari Kamis, 12 Desember 2019. Diskusi ini membahas penyebaran dan publikasi riset terbaru Sandya, Unlocking the Economic Potentials of …

News
Unlocking the Economic Potentials of Indonesia’s Refugee Community: A Survey on Labour Characteristics

On December 12, 2019 – Sandya Institute shared with the public their research concerning refugees and their economic impact in Indonesia.The outcomes were presented to the Ministry of Manpower, the International Organization for Migration, and other government, local, and international stakeholders. The research, led by Matthew LoCastro, conducted a survey on the …

News
Survey on Labor Characteristics (Links)

Below are the access links for the “Survey on Refugee Labor Characteristics”. Please complete the survey if you are currently a refugee or asylum seeker living in Indonesia. These links contain the same questions but have been written in multiple languages. Please choose the option that best suits you.  Thank …